Catatan oleh: Sweidy Pongoh
DI TENGAH derasnya kritik publik terhadap kinerja pemerintah daerah yang sering dianggap boros anggaran namun minim hasil, Kabupaten Minahasa Utara tampil memberikan contoh berbeda.
Dua inovasi yang kini masuk sebagai nominator Innovative Government Award (IGA) 2025, yaitu Si Gesit dan Koin Perak Lapis Emas, menjadi bukti bahwa pemerintahan yang cerdas bukan yang besar anggarannya, melainkan besar manfaatnya.
Sudah saatnya kita mengapresiasi pendekatan low budget high impact yang diusung Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara. Sebab apa gunanya program miliaran rupiah jika hanya menguntungkan segelintir pihak dan tidak menyentuh kebutuhan masyarakat secara nyata?
Si Gesit: Ketika Teknologi Digunakan untuk Menyelamatkan Nyawa:
Minahasa Utara adalah daerah kepulauan dan berbatasan langsung dengan wilayah rawan bencana. Di wilayah seperti ini, keterlambatan informasi bisa berujung pada korban jiwa. Di sinilah inovasi Si Gesit hadir sebagai solusi nyata.
Aplikasi digital ini bukan hanya ruang pelaporan bencana, tetapi juga kanal informasi strategis yang terintegrasi dengan data resmi seperti BMKG (Melihat prakiraan cuaca), InaTEWS (Info Gempa), InaRisk BNPB (Peta Risiko Bencana), Literasi (Edukasi Bencana) Magma ESDM (Info Gunung Berapi dan Pergerakan Tanah), serta SiPongi KLHK (Info Kebakaran Hutan dan Lahan). Inovasi ini membuktikan bahwa transformasi digital tidak harus menunggu anggaran fantastis, tetapi bisa dimulai dari kebutuhan dasar: menyelamatkan masyarakat.
Ketika daerah lain sibuk menggagas program e-government sekadar untuk pencitraan dan seremonial, Minut justru menciptakan sistem yang bekerja dan berdampak langsung. Tidak heran jika banyak daerah mulai meliriknya untuk direplikasi.
Koin Perak Lapis Emas: Mengendalikan Inflasi Tanpa Menguras APBD:
Di sisi lain, Koin Perak Lapis Emas, yang merupakan singkatan dari Kios Inflasi Perdagangan Layani Pembeli Sembako Masyarakat, tampil sebagai inovasi strategis di tengah ancaman inflasi dan kesenjangan ekonomi di daerah kepulauan.
Dengan menggandeng Bulog, Bank SulutGo dan swasta, inovasi ini tidak mengandalkan APBD, namun mampu menjamin ketersediaan bahan pokok sekaligus menstabilkan harga agar tetap terjangkau. Manfaatnya? Langsung dirasakan masyarakat kecil — bukan sekadar angka statistik di atas kertas.
Inilah wajah nyata pemerintahan yang berpihak pada rakyat.
Kenapa Inovasi Ini Layak Menjadi Juara IGA 2025
Jika penghargaan seperti IGA 2025 bertujuan mengapresiasi pemerintah yang kreatif dalam memberikan solusi untuk masyarakat, maka Minahasa Utara telah memenuhi esensinya.
Karena inovasi sejati bukan sekadar teknologi baru atau proyek besar.
Inovasi sejati adalah keberanian berpikir sederhana untuk menyelesaikan masalah nyata.
Si Gesit menyelamatkan nyawa.
Koin Perak Lapis Emas menyelamatkan ekonomi masyarakat kecil.
Keduanya lahir dari kebutuhan, bukan anggaran.
Di tengah maraknya daerah berlomba menghabiskan uang negara, Minut justru menunjukkan bahwa pemerintahan inovatif adalah pemerintahan yang hemat namun efektif.
Dan karena itulah, kedua inovasi ini bukan hanya layak menjadi nominator, tetapi layak menjadi juara pada ajang Innovative Government Award 2025 yang diselenggarakan oleh BKSDN Kemendagri.(***)






