MINUT , Titikkomanews — Gempa bumi berkekuatan 7,6 Skala Richter yang mengguncang wilayah Sulawesi Utara berdampak signifikan di sejumlah daerah, termasuk Kabupaten Minahasa Utara. Salah satu dampak paling terasa terjadi pada layanan kesehatan di RSUD Maria Walanda Maramis.
Akibat getaran gempa yang cukup kuat, puluhan pasien yang tengah menjalani perawatan terpaksa dievakuasi dari ruangan bertingkat ke lantai dasar gedung rumah sakit demi alasan keselamatan. Beberapa di antaranya bahkan masih dalam kondisi terpasang infus saat proses evakuasi berlangsung.
Kepala RSUD Maria Walanda Maramis, dr. Alain Beyah, membenarkan adanya langkah evakuasi tersebut. Ia menyebutkan bahwa total 82 pasien telah dipindahkan dari ruangan yang dinilai berpotensi membahayakan.
“Langkah ini kami ambil sebagai bentuk antisipasi untuk menghindari risiko yang lebih besar terhadap keselamatan pasien, tenaga kesehatan, maupun staf rumah sakit,” ujar Beyah.
Lebih lanjut, pihak rumah sakit juga telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Minahasa Utara untuk penanganan darurat. Salah satunya melalui pemasangan tenda darurat di area rumah sakit.
“Kami sudah berkoordinasi dengan BPBD Minut untuk pemasangan tenda darurat sebagai langkah antisipasi jika terjadi gempa susulan,” tambahnya.
Pantauan di lokasi pada Kamis (2/4), puluhan pasien terlihat masih berada di lantai dasar gedung rumah sakit. Mereka didampingi oleh keluarga masing-masing serta tetap mendapatkan pelayanan medis dari tenaga kesehatan yang berjaga.
Sementara itu, Kepala Bidang Penanggulangan Bencana BPBD Minahasa Utara, Robby Sepang, tampak memimpin langsung pemasangan tenda darurat bersama tim di area RSUD. Ia menyampaikan bahwa pihak BPBD menyiapkan puluhan tenda untuk menunjang kebutuhan evakuasi.
“Kapasitas tenda darurat yang kami siapkan sekitar 30 unit untuk menampung pasien dan kebutuhan darurat lainnya,” jelas Sepang.
Hingga saat ini, situasi di RSUD Maria Walanda Maramis masih dalam kondisi siaga, dengan fokus utama pada keselamatan pasien serta kesiapan menghadapi kemungkinan gempa susulan.(**)
Penulis: Sweidy Pongoh






