MINUT, Titikkomanews — Pasca gempa bumi berkekuatan 7 Skala Richter yang mengguncang wilayah Sulawesi Utara, manajemen RSUD Maria Walanda Maramis langsung melakukan langkah cepat dengan mengevakuasi seluruh pasien demi mengantisipasi potensi risiko lanjutan.
Direktur RSUD Maria Walanda Maramis, Alain Beyah, mengungkapkan bahwa proses evakuasi dilakukan sejak pagi hari, sekitar pukul 06.00 WITA, dengan melibatkan tenaga medis serta seluruh unsur yang ada di rumah sakit.
“Proses evakuasi berjalan lancar dan dibantu oleh para tenaga medis serta petugas lainnya. Hingga saat ini, pasien ditempatkan di tenda darurat maupun titik-titik kumpul yang telah disiapkan,” ujar Beyah.
Ia menambahkan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah menyalurkan bantuan berupa tenda darurat untuk menunjang pelayanan sementara, serta mengantisipasi jika terjadi penambahan pasien.
Meski sempat terjadi kepanikan saat gempa, Beyah memastikan tidak ada kendala berarti dalam proses evakuasi. “Sampai saat ini tidak ada hambatan signifikan. Kondisi pasien juga tetap terpantau dengan baik,” jelasnya.
Terkait kondisi bangunan rumah sakit, ia menyebut hanya terdapat kerusakan ringan, seperti pada bagian plafon. Secara umum, struktur bangunan masih dinilai aman untuk digunakan kembali setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
“Kerusakan hanya bersifat ringan dan masih dalam tahap penanganan. Pelayanan kesehatan tetap berjalan normal, termasuk untuk pasien di ruang perawatan intensif,” tambahnya.
Lebih lanjut, Beyah menegaskan bahwa tenaga medis yang ada masih mencukupi untuk menangani pasien, bahkan jika terjadi penambahan jumlah pasien pasca gempa.
Sementara itu, Kepala BPBD Minahasa Utara, Theodore Lumingkewas, menyampaikan bahwa hingga pukul 08.00 WITA tidak ditemukan kerusakan signifikan. Namun, laporan mulai masuk menjelang siang hari terkait beberapa fasilitas yang terdampak.
“Beberapa laporan yang masuk menyebutkan adanya kerusakan pada rumah ibadah, fasilitas kesehatan termasuk rumah sakit, serta puskesmas. Saat ini masih dalam proses pendataan untuk mendapatkan data yang akurat,” jelas Lumingkewas.
BPBD juga telah menginstruksikan seluruh perangkat daerah, termasuk camat dan kepala desa, untuk melakukan pendataan terhadap fasilitas umum seperti infrastruktur jalan dan bangunan sekolah guna menghitung estimasi kerusakan.
Terkait status kebencanaan, Lumingkewas menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ditetapkan status tanggap darurat di Minahasa Utara karena dampak yang ditimbulkan tidak signifikan.
“Kita bersyukur tidak ada korban jiwa. Untuk gempa seperti ini, jika dampaknya besar, maka bisa langsung ditetapkan tanggap darurat. Namun kondisi saat ini masih terkendali,” ungkapnya.
BPBD juga sempat menyebarluaskan peringatan potensi tsunami kepada masyarakat melalui media sosial dan jaringan pemerintah kecamatan hingga desa. Namun, peringatan tersebut telah dicabut dan tidak ditemukan dampak signifikan.
Ia pun mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan dengan terus memantau informasi resmi dari BMKG dan BPBD.
“Masyarakat diharapkan tidak panik, tetap waspada, dan selalu memperbarui informasi dari sumber resmi agar dapat meminimalisir risiko,” pungkasnya.(**)
Penulis: Sweidy Pongoh






